Berebut Lahan di Kota dan Perumahan Vertikal

Authors

  • Chris D. Prasetijaningsih

DOI:

https://doi.org/10.35880/inspirasi.v7i2.85

Keywords:

Perumahan, Skyline, Perkantoran, Komersil

Abstract

Sebuah kota, menjadi sebuah tempat tujuan bekerja, bertemu, dan tempat tinggal untuk menjalani harapan
akan kehidupan yang akan datang. Perkembangan kepadatan penduduk yang tinggi, apabila tidak dikendalikan
dengan baik akan menyebabkan timbulnya kawasan kumuh. Penduduk berebut lahan kota, seperti memakai
lahan sempadan sungai, sempadan kereta api, pemanfaatan trotoar untuk bekerja seperti lokasi warung atau
kios. Perkembangan kota menjadi kota yang tidak terkendali, karena pembiaran pembangunan rumah yang
tidak memenuhi syarat. Menghadapi pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, pemerintah daerah perlu
menyiapkan strategi penyediaan perumahan yang berkepadatan tinggi, antara lain melalui pembangunan rumah
susun, baik berupa apartment, rumah susun milik (rusunami) maupun rumah susun sewa (rusunawa). Kota
Bandung dan kota Jakarta merupakan dua kota yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia.
Pembangunan gedung-gedung tinggi, yang sebelumnya di sektor komersil untuk perkantoran dan saat ini di
sektor pemukiman, menandakan transformasi kota-kota di Indonesia. Skyline kota-kota besar berubah dengan
adanya rumah bersusun atau disebut perumahan vertikal. Transformasi kota metropolitan di Indonesia, seperti
di Bandung dan Jakarta,berupa pembangunan apartment, rusunami maupun rusunawa, merupakan respon
terhadap kebutuhan akan hunian sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang besar.
Kata Kunci : Perumahan, Skyline, Perkantoran, Komersil

Author Biography

Chris D. Prasetijaningsih

Pusbindiklatren Bappenas

Downloads

Published

2019-07-29

How to Cite

Prasetijaningsih, C. D. (2019). Berebut Lahan di Kota dan Perumahan Vertikal. Jurnal Inspirasi, 7(2), 59–64. https://doi.org/10.35880/inspirasi.v7i2.85

Citation Check

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.